Indonesian Working Group on Forest Finance - IWGFF
Media Outreach
|
Bencana dan Keseimbangan Alam |
|
Wednesday, 18 August 2010 |
|
Sumber : http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=23141 2010-08-16 Bencana dan Keseimbangan Alam Oleh : Victor PH Nikijuluw
"Kita juga selayaknya memberi apresiasi kepada pemerintah yang telah menambahkan unsur “pro-environment” kepada “Triple-Track Strategy” yang merupakan koridor berbagai aktivitas pembangunan selama lima tahun sebelumnya. Itu berarti setidaknya untuk lima tahun ke depan, aktivitas pembangunan nasional kita akan lebih bersahabat dengan bumi ini.
Ekosistem dunia saat ini dalam kondisi yang sangat labil atau tidak seimbang, ditandai dengan bencana alam masif yang terjadi di berbagai belahan bumi pada minggu terkahir ini. Inilah tanda-tanda akhir zaman zenocoic, yang menurut theologis Thomas Berry adalah ketika peradaban manusia menghancurkan muka bumi ini yang akan berakhir pada kehancuran dan kerusakan total. Bumi memang semakin tua, semakin sarat bebannya. Daya dukungnya yang terbatas terpaksa memikul beban dan kreasi hidup manusia yang semakin banyak, semakin variatif, semakin eksploitatif, semakin intensif pengurasan isi bumi, dan pada gilirannya semakin banyak polusi dan sampah yang dikembalikan ke bumi. Terjadi deplesi dan degradasi sumberdaya alam serta ketidak- seimbangan ekologis yang membuat phenomena bencana menjadi realitas alam. Memang bencana adalah akibat di alam yang sudah rusak dan tak seimbang fungsi eko- logisnya. Pada minggu lalu, banjir besar menyerang Pakistan yang mematikan lebih dari 1.500 orang serta jutaan lainnya yang menjadi korban. Diprediksi, hujan akan belum berhenti di negara ini. Semacam ini belum pernah terjadi di kawasan bumi yang selama ini lebih sering kering iklim dan cuacanya. Pada saat yang sama, air bah disertai lumpur juga menghacurkan Gansu, kawasan barat laut Tiongkok, menguburkan beton-beton kota dan menewaskan lebih dari 1,000 orang. Banjir bandang yang terbesar di Tiongkok ini terjadi karena hujan angin yang menerjang ekosistem hutan, dataran tinggi dan hulu sungai yang ternyata sudah rusak. Kemampuan kawasan itu untuk menampung air hujan yang tiba-tiba turun sudah jauh berkurang, membuat erosi tidak terelakkan. Ketika curah hujan di atas normal melanda Asia, sebaliknya di Rusia terjadi gelombang panas yang sangat ekstrim. Kebakaran hutan terjadi merata di banyak tempat, mengalirkan udara panas dan asap yang beracun ke kota Moskow, mengakibatkan angka kematian per hari naik dua kali dari keadaan normal. Inilah musim kering terpanas dalam milennium terakhir. Begitulah hukum alam, semacam hukum kekekalan energi. Ketika terjadi hujan di satu tempat, pasti di tempat lain di bumi ini terjadi kekeringan. Diperburuk oleh kerusakan ekosistim bumi maka di waktu yang sama ada tempat-tempat yang dilanda hujan deras, ada yang semakin tinggi curah hujan dan taufan, ada yang kering, ada pula yang sangat kering. Kejadian-kejadian alam ini terjadi di luar kebiasaan dan kemampuan prediksi, menyimpang dari trend yang selalu menjadi referensi. Ketidak-seimbangan |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Empat Pejabat Daerah Terdakwa Perambahan Hutan |
|
Tuesday, 13 July 2010 |
|
Selasa, 13 Juli 2010 00:03 WIB Penulis : Yennizar Lubis MI/Amiruddin Abdullah/ip MEDAN--MI: Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Koservasi Alam Kementerian Kehutanan menetapkan empat pejabat koperasi yang membuka lahan kebun kelapa sawit di lahan hutan produksi sebagai tersangka perambahan hutan, Senin (12/7).
Mereka ditetapkan setelah melalui penyelidikan di Jakarta yang menemukan adanya keterlibatan mereka dalam perambahan hutan lindung seluas 1.200 hektare di kawasan register 40 Kabupaten Padang Lawas, Sumatra Utara (Sumut). Mereka tiba di Bandara Polonia Medan di bawah pengawalan ketat penyidik dari Kementerian Kehutanan.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Hutan Suaka Diusik, Beruang Masuk Desa |
|
Tuesday, 29 June 2010 |
|
Sumber : http://regional.kompas.com/read/2010/06/28/1554215/Hutan.Suaka.Diusik..Beruang.Masuk.Desa Senin, 28 Juni 2010 | 15:54 WIB PEKANBARU, KOMPAS.com — Seekor beruang setiap malam memasuki permukiman warga di Desa Tanjung Sari, Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, sejak tiga hari lalu sehingga meresahkan warga setempat. "Beruang tersebut tak hanya datang ke permukiman warga, tetapi juga berusaha masuk ke rumah penduduk. Walaupun cuma satu ekor, tetapi meresahkan warga," ujar tokoh masyarakat Desa Tanjung Sari, Tohbasir, dikontak dari Rengat, Senin (28/6/2010). Ia mengatakan, beruang yang melebihi postur orang dewasa tersebut hampir saja masuk ke rumah keponakannya pada Ahad lalu, setelah mencoba masuk ke rumah warga lainnya. "Beruang tersebut ukurannya besar, dan masuk ke permukiman warga pada malam hari," ujarnya. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Sistem Komunikasi Radio Terpadu |
|
Tuesday, 29 June 2010 |
|
Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2010/06/29/1453133/Menhut.Akan.Pinjam.Barang.Bukti.Korupsi-5 Menhut Akan Pinjam Barang Bukti Korupsi Selasa, 29 Juni 2010 | 14:53 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kehutanan berencana menyurati Komisi Pemberantasan Korupsi untuk meminjam peralatan Sistem Komunikasi Radio Terpadu guna penanggulangan bahaya kebakaran. "Peralatan yang digunakan dalam Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) ini akan digunakan sebagai barang sita pakai," kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, di Jakarta, Selasa (29/6/2010). |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Tuesday, 29 June 2010 |
|
Sumber : http://www.mediaindonesia.com/read/2010/06/28/152031/126/101/Harimau-Sumatra-Berkeliaran-di-Pemukiman- Harimau Sumatra Berkeliaran di Pemukiman Senin, 28 Juni 2010 12:39 WIB Penulis : Rudi Kurniawansyah PEKANBARU--MI: Maraknya aktivitas pembalakan liar dan pembukaan blok hutan di sekitar kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan seluas 120 ribu hektare (ha) di Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, membuat habitat harimau Sumatra terganggu. Setidaknya ada enam harimau Sumatra yang kerap berkeliaran dan memakan ternak milik warga di sekitar kawasan lindung tersebut.
"Sudah belasan ternak kambing warga yang dimakan harimau. Itu sejak PT SRL (Sumatra Riang Lestari) membabat hutan alam hingga ke Kerumutan," kata Oto Basir warga Desa Tanjung Sari, Kecamatan Tayang Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Senin (28/6).
Oto Basir menjelaskan, dua harimau Sumatra yang merupakan induk dan anak terakhir terlihat oleh warga melintas di sepanjang jalan bantaran sungai tepat di tengah wilayah permukiman. Warga yang menyaksikan kehadiran Harimau itu tidak dapat berbuat apa-apa dan memilih bersembunyi di dalam rumah. "Saya melihat sendiri harimau itu lewat di depan saya, persis di jalan dekat dermaga desa ini. Harimau itu berasal dari hutan Kerumutan," ujar Oto.
Selain harimau, lanjutnya, kehadiran hewan-hewan liar lainnya seperti beruang juga kerap mengganggu warga. Oto mengungkapkan dua hari lalu di depan pintu rumahnya berdiri seekor beruang jantan yang diduga berasal dari Kerumutan. Beruang itu langsung lari menghindar sesaat melihat dirinya |
|
Selengkapnya...
|
|
| | << Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
| | Hasil 1 - 9 dari 671 |
|